can anybode rewarding me a trophy for being the best fake-smile-wearer?
hiding all the pain,
hiding all the things you knew,
hiding all the painful secrets,
and smiling like nothing ever happened?
for still sitting on the same bench,
talking like everything's fine,
while all the hurtful things buried in somewhere which no one would ever figure out.
kalo memang semuanya cuma sama, aku gatau harus percaya siapa lagi.
duduk, menyaksikan mreka begitu asiknya ngobrol, dan aku cuma bisa jd pendengar.
dan lagi lagi cuma bisa diam menyimpan semua itu.
being replaced.
such a common thing for me.
when they find someone better than me,
more interesting, more challenging than me,
then sayonara.
kadang aku mikir, buat apa aku ditengah mreka kalo cuma diem dan ga bisa ikut dalam alur pembicaraan mreka yg kelihatannya susah dihentikan itu.
ketika aku yg ngomong, beda atmosfirnya.
pengen menolak tp ga mungkin.
pengen ga berada dalam lingkungan itu tp ga mungkin.
dan lagi lagi cuma bisa diam, mendengarkan.
melihat sosokmu digantikan, dilupakan, diabaikan, bahkan diremehkan dan tak dianggap begitu berarti,
apalagi yg bisa aku lakuin selain diam?
sama kasusnya sama yg sebelumnya.
ditinggalkan, dilupakan, digantikan.
dianggap ga pernah ada.
apalagi yg bisa aku lakuin selain nerima kenyataan itu?
merontapun ga ada gunanya.
dia ga akan peduli.
diam.
lagi lagi cuma itu yg bisa aku lakukan.
diam, menerima, tersenyum :)
bahkan mendengar hal yg menyakitkan hati sendiri,
cuma bisa terima aja ga bisa ngapainpun juga kan?
minta penjelasan apa?
minta kepastian apa?
toh udh ada yg gantiin.
toh udh ada yg lebih menyenangkan.
mungkin dia sadar aku ga semenyenangkan yg dia pikirkan dulu.
ga semenarik yg dia pikirkan.
cuma mainan.
cuma senang sehari dua hari.
lalu pergi.
and me?
still wearing the best smile and act like everything's doing fine 😊
.png)
No comments: