The Passion of Jim Caviezel - Thousand Things She Can't Explain

Saturday, April 13, 2013

The Passion of Jim Caviezel


Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam film “The Passion of The Christ”. Jim Caviezel adalah aktor biasa dengan peran-peran kecil dalam film-film yang juga tidak masuk box office. Peran terbaiknya sebelum The Passion of The Christ adalah film perang berjudul The Thin Red Line. Ia hanya menjadi salah satu pemeran diantara begitu banyak aktor besar yang berperan dalam film kolosal itu. 

Dalam The Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh. Ia berlari memancing musuh ke arah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati. Akhirnya musuh pun mengepung dan membunuhnya. Karisma, kebaikan, keramahan dan sikap rela berkorban ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep fil yang sudah lama disimpannya. Ia menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.


“Saya terkejut suatu hari dikirimi naskah dan ditawari peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah...., Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankan Dia? Mereka pasti bercanda.

Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film-film yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit memerankan film ini. Salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek aramik, bahasa yang digunakan pada masa itu. Mel kemudian menatap tajam saya dan mengatakan risiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Bila saya memerankan film ini, mungkin ini akan menjadi akhir karir saya sebagai aktor di Hollywood.

Sebagai manusia biasa, saya gentar dengan risiko tersebut. Di Hollywood, biasanya aktor yang memerankan Yesus, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah lagi, kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan Hollywood sehingga habislah seluruh karir saya dalam duni perfilman.

Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya, “Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Dia disalibkan?” Mel menggeleng setengah terperangah, terkejut. Menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Ia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di The Thin Red Line.

“Baiklah Mel, aku rasa ini bukan kebetulan. Ini tanda panggilanku. Semua orang harus memikul salibnya. Bila tidak mau memikulnya, ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung risikonya, mari kita buat film ini!”
Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya karena begitu banyak referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.

Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan, yaitu lebih banyak berdoa. Saya memohon tuntunan-Nya melakukan semua ini. Siapakah saya sehingga memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya dalam hubungan dengan Dia tidaklah baik.

Saya lahir dari keluarga Katolik yang taat. Kebiasaan baik dalam keluarga saya terus saya ikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya. Saya hanyalah pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi pemain NBA yang besar. Namun, cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlet bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan karena cedera itu. Sepertinya seluruh hidup saya hancur. Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting. Sebuah peran sangant kecil membawa saya pada harapan bahwa seni peran mungkin menjadi jalan hidup saya.

Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari terus mengejar casting. Kini saya telah berada di puncak peran saya. Benar Tuhan, Engakau telah merencanankan semuanya, dan membawaku sampai di sini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau telah memilihku, apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai dengan kehenda-Mu.”

Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari bayangan saya. Saya di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri. Saya adalah satu-satunya orang di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang ku kenakan sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari. Dan syuting membuat saya sangat tertekan.

Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu di pundak saya, saya sangat kaget dan berteriak kesakitan. Mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya.

Namun, saya mencobanya dengan sekuat tenaga. Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Saya pun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa. Mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya mulai memaki, menyumpah, dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, mereka pun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberi saya perawatan medis.

Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu. Namun, saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel mendatangi saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini. Ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolah untuk melanjutkan film itu. Saya berkata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan sangat menyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini.


Mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan agar bahu saya tidak terlepas lagi. Kami mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi, yang penonton lihat dalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.

Bagian syuting selanjutnya mungkin yang paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga saya, yaitu pencambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu karena menggunakan cambuk sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm.

Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindung papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, berguling di tanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan. Tapi bagian yang paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat, yaitu penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju. Para kru dan figuran harus menggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung di kayu salib, di bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hipothermia. Seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak. Mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting karena nyawa saya jadi taruhannya.

Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan. Dari adegan ke adegan semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya. Saat saya tidak mampu lagi, baru mereka menghentikan adegan itu.

Ini semua membawa saya pada batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu sehingga sering kali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi saya kekuatan untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendirian melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwa-Nya.

Peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada di kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang. Kilat sambung-menyambung di atas kami. Tetapi, Mel tidak menghentikan pengambilan gambar karena cuaca saat itu sedang ideal, sama seperti yang seharusnya terjadi. 

Saya ketakutan tergantung di kayu salib itu. Di samping kami ada bukit yang tinggi. Saya adalah objek yang paling tinggi untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang. Dan saya pun tidak sadarkan diri.

Yang saya tahu kemudian banyak orang memanggil-manggil dan meneriakkan nama saya. Saat saya membuka mata, semua kru telah berkumpul di sekeliling saya, sambil berteriak-teriak, “Dia sadar! Dia sadar!” “Apa yang telah terjadi?” tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya di salib itu sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ.

Tubuh saya menghitam karena hangus. Rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu. Melihat dan merenungkan peristiwa itu membuat saya sering kali bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi? Apakah Engkau menginginkan film ini dihentikan?” Namun, saya terus berjalan. Kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita agar kita tetap dekat pada-Nya dan iman kita tetap kuat dalam ujian.

Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat di tempat syuting itu memerankan Yesus. Oh... itu sangat luar biasa... mengagumkan... tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada di situ, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diri-Nya sendiri.


Itu adalah pengalaman yang tak terkatan. Semua yang terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya adalah seorang non-Kristen. Setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun, pengalaman dalam film itu mengubah kami semua. Pengalaman yang tidak akan terlupakan. Dan, Tuhan sungguh baik. Film itu menjadi kontroversi. Ternyata perkiraan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memillha-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.

Saya harap mereka yang menonton The Passion of The Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor. Jangan kemudian melihat saya dalam film-film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion of The Christ dan menjadi kecewa. Tetap pandang Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak saya bergumul dan berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya. Saya berharap hal yang sama terjadi pada hidup Anda.


No comments:

@way2themes