a piece of my childhood - Thousand Things She Can't Explain

Friday, April 12, 2013

a piece of my childhood


sebersit cahaya putih menyambar
membawaku berteleportasi menuju suatu waktu
tapi kok.. kelihatannya aku pernah melihatnya?
sepertinya aku kenal dengan gadis kecil itu?
siapa dia?

"ma, ngapain?"
"mau buat susu" kata wanita itu sembari membuka tutup kaleng susu dengan pembuka kaleng. 
ternyata kaleng yang baru. bubuk susu disendokkan ke gelas.
gadis kecil terlihat penasaran dengan bekas kaleng yang sudah dibuka.

diraihnya, disentuhnya dengan jarinya dan diputar-putarnya.
perlahan menetes darah dari jarinya, dan semakin deras....
"ngapain sih dipegang-pegang? berdarah kan" ucap wanita itu. 
diangkatnya rambut gadis itu dengan penuh emosi, dinaik turunkan badannya layaknya mendribble bola basket.
gadis itu meronta-ronta, menangis-nangis dengan darah yang memercik-mercik dari jarinya
"makanya jangan lasak kali tangannya" terus dilakukannya dan terus.

putih kembali..
ini dimana lagi?
dan itukan? 
ya, gadis 16 tahun..

"kenapa tampangmu seperti itu? masih soal rambutmu" ucap wanita yang sama
"kenapa rambutku selalu dipotong pendek? aku mau panjang"
"lebih bagus begitu, lebih rapi. gak cocok rambutmu panjang"
"kata siapa? semua temanku bilang bagus. mama aja yang ga perna bilang bagus"
"kok kau lebih tau? aku lebih ngerti soal itu"
"suka aku lah mau rambut kekmana. heboh kali ngurusin rambut orang, kenapa rupanya kalo aku mau panjang?"
didekatinya gadis itu, ditamparnya.
dijambaknya rambutnya dengan emosi yang meluap-luap, dibantingkannya badan gadis itu ke lantai, ditendang-tendangnya dengan penuh rasa benci.
"kalo jelek ya jelek aja. kalo dasarnya cantik diapainpun tetap cantik" katanya sambil menunduk dan menjambak lagi rambut gadis itu.
diseretnya gadis itu dari mulai dari ruang tv sampai depan kamar, kurang lebih 2 meter jauhnya.
gadis itu hanya mampu meronta-ronta sambil menangis menahan sakitnya jambakan itu.
diseret sambil dijambak dan dimaki dengan bermacam kata-kata kasar..


putih lagi..
ini dimana lagi?


aku diam, menahan tangis.
gak, gak boleh nangis, jangan nangis, nanti keliatan cengeng.
"anak sepertimu memang gak ada gunanya, bisanya nyusahin aja gak bisa bikin bangga" ucap lelaki itu.
PLAAAAAAAAK!!!
terdengar suara benda menghantam kakiku. tali pinggang.
lagi, PLAAAAAK!!!
"keluar ajalah kau ya, gak mau aku punya anak kayak kau" ditendangnya badanku sampai aku terhempas.
"aaaaaaaaw" ucapku saat wanita itu datang menjambakku berulang-ulang dengan penuh emosi.
"mati aja kau ya" ucapnya, PLAAAAAK!! terdengar suara tamparan dari wajahku.
aku terduduk miring di lantai dengan tangan menumpu ke lantai, rambut yang tidak lagi rapi dan wajah merah bekas tamparan dan menahan tangis juga emosi.
tangis ini akhirnya lepas juga....

"aku nyesal udah melahirkanmu"
"lebih baik aku mati daripada punya anak sepertimu"
"aku rela dipenjara tapi bisa bunuh anak macam kau"
"kenapa kerjamu buat susah aja?"
"apa yang bisa dibanggakan dari anak sepertimu?"
"kenapa kau harus hidup? setiap liat mukamu pasti emosi aja bawaannya"
"memang kerjamu bikin masalah ya"
suara itu terus terngiang-ngiang...
terusss terusssss dan terusss.....
aku mendengarnya berulang kali, terasa begitu dekat...
aku menangis mendengarnya, berusaha menutup telingaku rapat-rapat tapi suara itu tetap terasa dekat....
tolong aku tolongg...
hentikan suara itu tolong......

tiba-tibaa...
cahaya putih itu kembali muncul kembali, namun seakan menamparku dan menyadarkanku secara paksa.
aku terbangun, terengah-engah, berpeluh dan jantung ini berdetak sangat cepat.
sesak rasanya, dan astaga aku menangis.
pening rasanya, sakit sekali kepala ini.
jadi apakah itu mimpi?
tidak, itu tidak mimpi.
itu hanyalah beberapa potong masa lalu yang pernah ku alami.
ya, seperti itulah.
itulah aku.

No comments:

@way2themes