Teori Belajar - Thousand Things She Can't Explain

Sunday, March 24, 2013

Teori Belajar

Modifikasi Perilaku
oleh: Kelompok 7


111402095 – Roy P Ginting  


Edward L. Thorndike, merupakan salah satu tokoh yang mengemukakan teori mengenai Modifikasi Perilaku. Prinsip teori Thorndike adalah belajar asosiasi antara kesan panca indra (sense impression) dengan impuls untuk bertindak (impulse to action).
Thorndike melakukan eksperimen dengan menggunakan kucing. Eksperimen yang dilakukan adalah, memasukkan kucing lapar ke dalam sebuah suatu kandang yang sudah ditutup, dan pada bagian depan kandangnya diletakkan makanan. Kucing yang kelaparan tersebut, akan berusaha untuk meraih makanan tersebut dengan berbagai cara, termasuk dengan berusaha melepaskan diri dari kurungan kandang. Untuk pertama kali, tentunya kucing akan mengalami kesulitan dalam melepaskan diri. Namun, untuk pertama kalinya tentu akan mengalami kesulitan dalam melepaskan diri. Tetapi, belajar dari pengalaman lama-kelamaan kucing akan semakin mudah menemukan cara untuk melepaskan diri. 

Dengan terlatihnya proses belajar dari kesalahan (trial and error), maka waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan problem itu makin singkat. Hal ini ditafsirkan Thorndike sebenarnya ia tidak mengerti cara membebaskan diri dari kotak itu, tetapi belajar mencamkan dan mempertaruhkan untuk siap berfikir (think trough) mempertahankan respon yang benar dan menghilangkan respon yang salah.
Teori koneksionisme disebut juga S.R. Bond Theory dan S.R. Psyochology atau terkenal dengan sebutan “trial and error learning”. 

Teori ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1)      Adanya motif yang mendorong aktivitas.
2)      Adanya berbagai respon terhadap situasi.
3)      Adanya eliminasi respon-respon yang gagal atau salah.
4)      Adanya kemajuan reaksi-reaksi dalam mencapai tujuan.

Adapun contoh konkrit sehubungan dengan dinamika mahasiswa IT berdasarkan teori ini adalah:
1. Untuk mendapatkan nilai yang baik, masing-masing dosen biasanya menetapkan standardisasi tersendiri. Misalnya melalui absen, mengerjakan semua tugas-tugas, dan nilai ujian. Setiap mahasiswa akan berusaha memenuhi standardisasi tersebut untuk mendapatkan nilai akhir yang memuaskan.

2. Baik dosen maupun asisten lab akan memberikan beberapa tugas untuk mahasiswa. Namun, apabila diberikan tugas, terkadang mahasiswa secara tidak sadar mengeluarkan respon negatif seperti keluhan-keluhan secara sadar maupun tidak sadar, misalnya: "yaaah... pak" sebagai respon atas tugas yang disampaikan.

3. Ada beberapa dosen yang menetapkan kedisiplinan dengan keras. Keterlambatan tidak diperbolehkan walau sedetik pun. Terkadang mahasiswa menganggap remeh mengenai keterlambatan pada masing-masing dosen. Ada yang sengaja maupun tidak sengaja untuk datang terlambat. Apabila tidak diperbolehkan masuk, maka mahasiswa kan belajar dari pengalaman masing-masing. Dari pengalaman yang ada, akan ada keinginan dari diri masing-masing untuk datang lebih cepat agar tidak lagi terlambat demi mengikuti perkuliahan.

No comments:

@way2themes